Merriam-Webster, penerbit kamus bahasa Inggris terkemuka, bersama perusahaan induknya Encyclopedia Britannica, telah meluncurkan gugatan hukum melawan OpenAI, pencipta chatbot AI populer ChatGPT. Gugatan tersebut menuduh OpenAI secara ilegal menggunakan materi berhak cipta untuk melatih model AI-nya, yang secara efektif “menumpang bebas” kekayaan intelektual kamus.
Tuduhan Inti: Penyalinan dan Reproduksi Hasil yang Tidak Sah
Inti dari keluhan tersebut berpusat pada klaim bahwa OpenAI mengambil lebih dari 100.000 artikel, entri ensiklopedia, dan definisi kamus dari sumber online tanpa izin. Data ini kemudian digunakan untuk melatih ChatGPT, sehingga memungkinkannya menghasilkan respons yang secara langsung mereplikasi atau meniru konten asli yang dilindungi hak cipta.
Menurut gugatan tersebut, OpenAI melanggar hak cipta dalam tiga cara penting:
1. Penyalinan dalam skala besar atas materi yang dilindungi.
2. Menggunakan konten ini untuk pelatihan AI.
3. Menghasilkan keluaran yang terlalu mirip dengan teks aslinya.
Pengalihan Lalu Lintas dan Halusinasi AI
Merriam-Webster berpendapat bahwa kemampuan ChatGPT untuk merangkum definisi kamus dan konten lainnya mengkanibal lalu lintas dari situs webnya sendiri, sehingga mengurangi pendapatan penerbit. Selain itu, gugatan tersebut mengklaim bahwa ChatGPT terkadang menghasilkan “halusinasi AI” – respons palsu yang dihasilkan ketika AI kekurangan informasi – menggunakan data kamus sebagai dasar penipuan.
Keluhan tersebut lebih lanjut menegaskan bahwa ChatGPT sering menyajikan penjelasan yang tidak lengkap atau akurat dengan secara selektif menghilangkan sebagian konten kamus, sehingga menyesatkan pengguna dalam prosesnya.
Tuntutan dan Implikasi Hukum
Penggugat meminta kompensasi finansial atas dugaan pelanggaran hak cipta dan perintah permanen untuk mencegah OpenAI melanjutkan praktik ini.
Kasus ini penting karena menguji batasan penggunaan wajar dalam pelatihan AI. Jika berhasil, gugatan tersebut dapat menjadi preseden yang memaksa pengembang AI untuk mendapatkan izin eksplisit sebelum menggunakan materi berhak cipta dalam model mereka, sehingga berpotensi membentuk kembali masa depan pengembangan AI. OpenAI belum menanggapi gugatan tersebut.
Bentrokan hukum ini menyoroti meningkatnya ketegangan antara hak kekayaan intelektual dan pesatnya kemajuan teknologi AI. Hasil dari penelitian ini kemungkinan besar akan menetapkan standar utama mengenai bagaimana materi berhak cipta dapat digunakan dalam pelatihan model bahasa besar.



















